HARUSKAH PERSIB PINDAH KE LPI?

Harinurdiansyah.blogspot.com, 20 Jan 2011
Lagi-lagi untuk yang kelima kalinya tim Persib menelan kekalahan di Indonesia Super League (ISL) 2010/2011. Kali ini Persisam yang berhasil mengalahkan Persib dengan skor tipis 1-0 di Stadion Segiri Samarinda (20/1). Namun bukan kekalahannya yang akan terlalu dibahas di sini, namun penyebab dari kekalahan itu sendiri yang sekarang menjadi sorotan bobotoh. Apalagi kalau bukan karena wasit.
Dilihat dari pertandingan 2  x 45 menit, tidak sepantasnya Persib mengalami kekalahan. Dominasi lini tengah dan solidnya lini belakang membuat pertandingan Persib memang enak untuk ditonton. Mungkin ini salah satu pertandingan Persib dengan permainan terbaik dibandingkan 6 pertandingan sebelumnya. Namun ya itu tadi, lagi-lagi permainan indah dari Persib yang banyak dihuni oleh pemain papan atas dirusak oleh kepemimpinan wasit yang menurut kacamata banyak pihak terutama bobotoh sangat buruk. Wasit yang memimpin pertandingan tersebut cenderung memperlihatkan keberpihakannya terhadap tim tuan rumah, dan hal ini 'didukung' juga oleh dua asisten wasit yang tidak terlalu jeli dalam memimpin pertandingan.
No. 10 Terperangkap Offside
No. 9 tidak terperangkap offside
Kita ambil contoh, beberapa kejadian perangkap offside yang kerap dilakukan oleh tim lawan  sebenarnya tidak berjalan dengan mulus. Dilihat dari sisa kamera televisi yang menyiarakan pertandingan tersebut jelas-jelas beberapa serangan yang dilakukan penyerang-penyerang Persib tidak dalam posisi terjebak offside. Namun entah mengapa, hakim garis selalu mengangkat bendera setiap kali pemain Persib, -misalnya Pablo Frances,- mendahului pemain belakang tim lawan. Padahal ketika pemain tengah mengirim umpan kepada Pablo Frances, posisi Pablo masih sejajar dan belum mendahului pemain belakang tim lawan. Tapi entah dari sudut mana dan cara pandang yang bagaimana, hakim garis  mengangkat bendera tanda Pablo Frances terjebak offside. Dari gerak tubuhnya hakim garis malah menunjuk Atep yang terjebak offside, padahal Atep sendiri tidak melakukan reaksi apapun karena dirinya sadar ia berada pada posisi offside. Hal ini menimpa pula beberapa kali kepada Hilton Moreira dan Rahmat Affandi. Sungguh aneh....
Dalam hal pelanggaran pun wasit banyak melakukan hal keliru. Setiap pemain Persib melakukan duel ataupun adu badan dan kemudian pemain lawan terjatuh, pasti wasit meniup peluit tanda pelanggaran. Namun, bisa dilihat bagaimana ketika Pablo Frances dan Siswanto yang banyak dilanggar oleh pemain lawan. Tidak ada peringatan  dari wasit. Wasit malah memberikan peringatan justru kepada pemain Persib yang merasa dirugikan karena pelanggaran tersebut.

Pindah Ke LPI?
Trending Topics Twitter
Wacana tim Persib untuk pindah ke LPI banyak disuarakan oleh bobotoh diantaranya melalui media sosial Facebook dan Twitter. Bahkan menurut Simamaung.com, kata-kata Wasit G*bl*g sempat menjadi trending topics di Twitter. Ini merupakan akumulasi kekecewaan bobotoh terhadap jalannya kompetisi yang telah dilalui oleh Persib. Bobotoh pastinya akan menerima setiap kekalahan, namun tentunya dengan cara-cara yang 'terpuji'. Wasit adil, permain cantik, tentunya apapun hasilnya, bobotoh pasti akan menerima. Namun jika kekalahan didapat tim lawan dengan cara yang kurang 'terpuji', sudah sepantasnyalah bobotoh meradang.
Manajer Persib pun setelah pertandingan Sriwijaya melawan Persib di Palembang, sempat mengutarakan ancamannya jika kompetisi terus berjalan seperti ini, bukan tidak mungkin Persib akan mengikuti kiprah tim-tim ex-ISL, seperti Persema dan PSM untuk berlaga di LPI.

Gol Cantik di LSI?
Melihat kualitas wasit dan hakim garis di LSI yang sepertinya kurang memahami peraturan yang benar tentang offside, kita jangan berharap dapat menyaksikan gol-gol indah layaknya pertandingan-pertandingan di belahan dunia lain. Mengapa? Ya itu tadi, kenapa setiap pemain yang mendahului pemain belakang selalu divonis terperangkap offside? Itu bisa dikatakan 'Ya', jika ketika pemain tengah memberikan umpan kepada penyerang dan penyerang tersebut telah mendahului pemain belakang lawan, itu jelas dikatakan offside, namun ketika pemain tengah memberikan umpan, dan penyerang lari dari belakang sebelum pemain bertahan lawan, apa itu bisa dikatakan offside?
Sungguh tak terbayangkan jika pemain sekelas David Villa dan Xavi (Barcelona) bermain di Liga Indonesia. Kita tahu sendiri bagaimana umpan-umpan berkelas dari Xavi yang selalu melewati kepala pemain belakang lawan, dan juga David Villa dengan keahliannya menerobos jebakan offside. Jika mereka bermain di Liga Indonesia jangan harap kolaborasi dari keduanya akan menciptakan banyak gol. Hakim garis mungkin akan sibuk mengangkat bendera offside dari setiap umpan diberikan oleh Xavi kepada David Villa yang selalu berdiri sejajar dengan pemain belakang lawan. Jangan harap pula Fillipo Inzaghi yang terkenal sebagai raja offside dapat mencetak gol jika bermain di Liga Indonesia.
Wasit mungkin akan berkilah jika setiap keputusan yang dibuatnya tidak sempurna karena faktor manusiawi. Namun jika hal itu terus berulang, apa masih pantas disebut sebagai hal yang manusiawi?
Dan satu lagi faktor yang mempengaruhi di suatu pertandingan sepakbola, yaitu media televisi yang menayangkan secara langsung pertandingan Liga Indonesia. Ketika pertandingan berlangsung dan disiarkan secara langsung, sudah sepantasnyalah televisi memberikan informasi yang menarik dari tiap sisi pertandingan tersebut. Namun, pada kenyataannya pada beberapa kasus, komentator dari televisi tersebut tidak memberikan informasi yang akurat bahkan analis mengenai pertandingannya pun tidak bisa terlalu memberikan gambaran yang sebenarnya dari jalannya pertandingan tersebut. Komentator terkadang memberikan ucapan yang cenderung memaksakan kehendaknya. Sebagai contoh untuk pelanggaran yang terjadi, padahal di tayangan ulang tidak terjadi suatu pelanggaran, namun ketika melihat ada pemain yang terjatuh, komentator tersebut mengatakan bahwa memang ada 'sedikit' pelanggaran yang dilakukan oleh tim lawan. Sungguh ironi. Untuk masalah offside pun seperti itu, dan parahnya, stasiun televisi tersebut jarang sekali memberikan tayangan ulang jika terjadi pelanggaran offside yang menurut kacamata pemirsa agak sedikit 'janggal'. Seharunya stasiun televisi tersebut bisa jadi media pembelajaran untuk semua pihak, bahwa inilah peraturan sepakbola yang benar dan yang salah.
Namun apapun kita harus hargai usaha dan kerja keras dari seluruh perangkat sepakbola di Liga Indonesia.  Tidak ada yang perlu dipersalahankan, hanya kerja keras yang harus ditingkatkan oleh tim Persib. Namun, melihat dari beberapa pertandingan yang telah dilalui oleh Persib di Liga Indonesia yang banyak diwarnai oleh banyak ketidakpuasan, solusi hadirnya LPI patut dipertimbangkan.

1 komentar:

  1. sangat setuju persib agar pindah ke LPI,,,karena kita tahu sendiri kalau yang namanya LSI minim kualitas pertandingan untuk ditonton dikarenakan "wasit" yang memimpin jalannya pertandingan tidak tahu aturan2 permainan sepakbola...kapan majunya persepakbolaan indonesia...hidup LPI!!!

    BalasHapus